PELALAWAN- Nama Wahyu Trinanda Puteri semakin dikenal di kancah pariwisata Provinsi Riau. Mahasiswi aktif Universitas Islam Riau (UIR) yang lahir di Batu Bersurat, Kampar, pada 1 Januari 2004 ini berhasil menembus jajaran finalis Duta Pariwisata Riau 2026 mewakili Kabupaten Pelalawan.
Pencapaian tersebut bukan sekadar soal penampilan, melainkan bukti dedikasi seorang mahasiswa dalam melestarikan budaya Melayu serta mempromosikan potensi daerah ke tingkat yang lebih luas.
Wahyu, yang saat ini duduk di semester delapan, dikenal sebagai sosok aktif dan berprestasi di lingkungan kampus UIR. Selain fokus pada akademik, ia juga terlibat dalam berbagai organisasi kemahasiswaan dan kegiatan pengabdian masyarakat. Keseimbangan antara intelektualitas dan kepedulian sosial menjadi salah satu nilai tambah yang mengantarkannya lolos dalam ajang bergengsi tersebut.
“Bagi saya, menjadi Duta Pariwisata bukan hanya tentang mengenakan busana adat yang indah, tetapi bagaimana mampu menjadi jembatan informasi antara potensi wisata daerah dengan dunia luar. Pendidikan saya di UIR membentuk pola pikir kritis dan komunikatif yang sangat membantu dalam menyampaikan visi dan misi pariwisata,” ujar Wahyu.
Prestasi dan Dedikasi terhadap Budaya Melayu
Sebelum terpilih mewakili Pelalawan, Wahyu telah menorehkan sejumlah prestasi di bidang seni dan budaya. Ia dikenal fasih membawakan tari tradisional Melayu serta memahami filosofi Melayu, “Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah”.
Kemampuan tersebut membuatnya tampil menonjol saat sesi wawancara dan presentasi di hadapan dewan juri.
Dalam ajang Duta Pariwisata Riau 2026, Wahyu mengusung visi “Pariwisata Berkelanjutan Berbasis Kearifan Lokal”. Ia berkomitmen mempromosikan destinasi wisata tersembunyi (hidden gems) di Pelalawan dan Riau, sekaligus mengedukasi generasi muda agar lebih bangga terhadap warisan budaya daerah.
Butuh Dukungan Menjelang Grand Final
Menjelang grand final yang akan digelar pada 23 Mei 2026, Wahyu berharap adanya dukungan penuh dari masyarakat dan Pemerintah Kabupaten Pelalawan.
Di balik perjuangannya menuju panggung grand final, Wahyu mengaku sedang menghadapi kendala biaya untuk memenuhi berbagai kebutuhan persiapan acara.
“Saya masih membutuhkan dana sekitar Rp1.200.000 untuk keperluan menjelang grand final. Sampai sekarang dananya belum juga terkumpul,” ungkap Wahyu kepada awak media.
Ia mengaku sempat meminta bantuan kepada orang tuanya. Namun kondisi ekonomi keluarga saat ini belum memungkinkan untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
“Saya juga meminta ayah menyampaikan hal ini kepada Pak Wakil Bupati, Pak Bupati, dan Ketua DPRD Pelalawan melalui WhatsApp, untuk menanyakan apakah ada bantuan dari Dinas Pariwisata Pelalawan. Namun sampai sekarang belum ada respons,” ujarnya.
Meski demikian, Wahyu tetap berusaha tegar dan berharap ada perhatian serta dukungan dari berbagai pihak terhadap perjuangannya membawa nama Pelalawan di ajang Duta Pariwisata Riau 2026.
“Saya hanya bisa berusaha dan berdoa. Semoga ada jalan terbaik,” tutup Wahyu.(TIM)

Posting Komentar